Minggu, 27 Desember 2020

Kampung Terompet di Kota Tangsel Kini Tinggal Kenangan

Tahun baru 2021 kini tak semeriah perayaan sebelumnya karena disebabkan oleh pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), keriuhan yang biasa dihiasi terompet dan kembang api kini ditiadakan.

Karena efek dari kebijakan tersebut, kampung terompet yang berada di Gang Keluarga, Jalan Raya Ceger, Jurang Mangu Barat, Kota Tangerang Selatan, kini tinggal nama.

Daerah yang dikenal luas sebagai ‘Kampung Terompet’ itu telah menanggalkan tradisi memproduksi terompet di penghujung akhir tahun, setidaknya dalam empat tahun belakangan.

Ketika wartawan menyambangi daerah tersebut, tidak didapati kembali adanya geliat masyarakat yang memproduksi terompet seperti 5 tahun yang lalu, meski sudah mendekati Tahun Baru 2021.

Seorang warga sebut saja Iman mengatakan, hanya tinggal satu orang pengrajin yang saat ini masih memproduksi terompet, namun dalam jumlah sangat kecil.

Saat dikunjungi, satu-satunya pedagang terompet tersisa di kampung tersebut Haris menjelaskan, terompet menurun sudah 4 atau 5 tahun yang lalu.

“Udah enggak (jualan terompet, red). Ada kali mpat atau lima tahun sudah penjualan menurun. Ya tahu sendiri lah,” ujar Haris singkat, Sabtu (26/12/2020).

Dalam pantauan, tampak puluhan terompet hanya digantung di depan teras rumah.

Terompet berdesain warna-warni itu diketahui merupakan stok dari sisa tahun-tahun sebelumnya yang tidak terjual.

Kini pedagang terompet itu sendiri telah beralih bekerja membuka sebuah ruko di kampungnya, Klaten, Jawa Tengah.

Kehadirannya di ‘Kampung Terompet’, kata dia, hanya sesekali untuk mengunjungi anak dan cucunya, tidak lagi untuk urusan berjualan terompet.

“Enggak, enggak lagi (jualan terompet),” tukasnya.

Diberitakan tahun lalu, penyebab merosotnya penjualan terompet di Kampung Terompet, menurut Haris ada tiga isu yang membuat penjualan terompetnya dari tahun ke tahun semakin merosot tajam.

Pertama itu, isu kertas pembugkus terompet berasal dari kertas Al-Quran, kedua itu isu ada virus pada tiupan terompet tradisional dan yang ketiga itu isu haram meniup terompet pada malam tahun baru.

Disamping itu, masuknya terompet-terompet dari luar negeri, yang modern dan keluaran pabrikan, menambah parah iklim penjualan terompet tradisional.

“Banyak faktor sih yang membuat terompet tradisional tersisih di masyarakat. Diantaranya ya itu, terompet-terompet dari luar keluaran pabrik dan modern,” ungkapnya.

Menurut Haris, di “Kampung Terompet’ itu, hanya keluarganya saja yang masih bertahan membuat terompet tradisional untuk malam pergantian tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar